Langsung ke konten utama

Teks Cerpen


Permintaan Maaf

            Suara bel terdengar keras mengejutkan diriku yang lantas berusaha bangkit dari tempat tidurku. Pukul 3 pagi, kulihat jam sekilas samar-samar dengan mata yang masih mengantuk. Seperti biasa, tempat tidur kurapihkan sebelum keluar dari kamar. Aku sangat bersemangat karena hari ini adalah hari pertamaku masuk ke sekolah.
            “ Hooaaammm, Udah jam 3 pagi aja, berangkat lebih awal aja deh biar nanti ga telat datengnya, “ Pikirku sembari membawa peralatan mandi ke kamar mandi.
            Selesai mandi, aku bersiap pergi ke masjid untuk melaksanakan kewajibanku sebagai umat islam untuk shalat di masjid berjama’ah. Hari ini akan menjadi hari yang sangat spesial bagiku. Selesai bersiap-siap, kami sekeluarga berkumpul di meja makan untuk menyantap sarapan pagi. Terjadilah obrolan-obrolan hangat di antara kami.
            “ Pagi dek, pagi kak, “ Sapa mamah dan papah.
            “ Pagi mah, pagi pah, “ Balasku dan kakakku yang baru datang.
            “ Gimana dek, semangat ga mau masuk sekolah? “ tanya papah.
            “ Semangat dong pah, adek kan udah berhasil masuk di sekolah impian adek masa ga semangat pah, “ Jawabku dengan lantang.
            “ Bagus kalo gitu, nah kakak gimana skripsinya lancar kan? “ tanya papah.
            “ Alhamdulillah pah masih dikasih kelancaran sejauh ini. “ Kakak tersenyum.
            Sarapan bersama keluarga adalah saat-saat menyenangkan bagiku, karena kami dapat saling bercengkerama satu sama lain di tengah kesibukan kami masing-masing. Di samping itu, hubungan di antara kami juga semakin dekat meskipun sulit berkumpul sepanjang hari. Hampir setiap hari rumah ini tak pernah terisi penuh kecuali di malam dan pagi hari. Hal inilah yang selalu aku harapkan ada selalu di kehidupanku.
           
            Selesai sarapan, papah langsung mengambil tasnya dan berangkat menuju kantornya karena ada meeting dengan klien-nya. Sementara itu ibu dengan sigap membereskan peralatan makan yang masih ada di meja dengan bantuanku. Kakak langsung berpamitan kepada ibu untuk berangkat menuju kampus.
            “ Kayaknya lagi pada sibuk ya mah, biasanya juga berangkatnya selesai ibu membereskan ini, “ ucapku, sambil membawa piring.
            “ Iya dek, papah si katanya ada meeting sama klien, kalo kakak ada janji sama temennya di luar kampus, “ jelas mama kepadaku.
            Selesai membantu ibu aku langsung bergegas untuk berangkat ke sekolah. Karena ini adalah hari pertamaku ke sekolah, aku tidak boleh sampai telat. Sepanjang perjalananku aku melihat pemandangan yang sudah biasa sepanjang tahun, banyaknya anak sekolah yang bergegas menuju sekolah mereka dengan membawa berbagai macam barang yang akan mereka gunakan untuk MPLS. Begitu pun aku yang diperintahkan oleh sekolahku untuk membawa sebuah poster yang berisi data  diriku yang entah akan digunakan untuk apa.
            Akhirnya aku sampai di sekolahku yang terlihat begitu megah jika dilihat sekilas dari luar. Disana tertuliskan SMAN 4 Bandung, begitu bangganya diriku berhasil masuk ke sekolah yang ternyata lebih besar dari gambar yang kulihat internet. Kuparkirkan sepedaku di tempat parkir yang telah disediakan, kebetulan jarak dari rumahku menuju sekolah ini tidak begitu jauh. Aku pun melangkah masuk menuju bagian dalam sekolah yang sangat bagus, sesuai dengan apa yang kulihat dari internet.
            Begitu masuk aku langsung disambut oleh para kakak kelas yang sepertinya adalah anggota osis di sekolah ini. Sambutan hangat dari para kakak kelas membuatku semakin semangat untuk mengikuti kegiatan MPLS. Begitu pun pada murid baru lain, mereka memberikan sambutan hangat kepada mereka semua. Tanpa sengaja aku menyenggol salah satu kakak kelas, namun hal ini belum terlalu menjadi masalah.
            Masalah yang sebenarnya muncul di sini. Saat aku tengah fokus memperhatikan pertunjukan penyambutan siswa baru, tiba-tiba aku ingin pergi ke toilet. Karena keadaannya penuh maka aku berusaha keluar dari kerumunan dengan berjalan mundur. Begitu aku keluar dari kerumunan, aku menabrak salah satu kakak kelas yang merupakan anggota osis, kakak kelas yang sama, yang sebelumnya aku senggol sehingga ia yang sedang membawa kopi jatuh dan mengenai pakaiannya.
            “ Kak, saya mohon maaf kak saya tadi benar-benar tidak melihat ada kakak yang sedang lewat dengan membawa minuman.”
            “ Ah, ya Ampun! bajuku kotor kena kopi, kamu nih punya mata ga sih dek kakak tuh bawa kopi buat pak kepsek dan sekarang malah tumpah ke baju kakak, nodanya juga susah hilang nih, “ kakak kelas itu menjawab dengan nada marah.
            “ Iya kak saya minta maaf, sini bajunya kak biar nanti saya cuci di rumah, “ jawabku dengan nada takut.
            “ Gausah! Nanti baju kakak malah jadi rusak, udah deh sana kamu pergi baru masuk udah cari masalah aja, “ jawab kakak itu sambil pergi meninggalkanku.
            Hari pertama masuk sekolah ini tidak seperti dengan apa yang kubayangkan, melainkan menjadi mimpi buruk bagiku. Di hari pertama saja aku  sudah membuat masalah dengan salah satu kakak kelas. Hari pertama yang bahagia langsung pupus begitu saja. Bertemu teman baru, guru baru, dan lingkungan baru menjadi tidak berarti setelah kejadian itu. Sepanjang hari, kakak kelas itu selalu menatapku kesal setiap kali kami berpapasan, tidak seperti kakak kelas lainnya yang selalu menyapaku kala berpapasan, seperti kakak ketua osis yang sangat ramah kepadaku namanya Leo.
            “ Hai Ayu, gimana MPLS di kelasnya seru ga? “ tanya kak leo.
            “ Seru dong kak semua kakaknya baik, apalagi kak Leo,” balasku
            “ Ngomong- ngomong kamu ada masalah apa sama kak Maya, Kakak lihat tadi kamu gak sapa dia begitupun kak Maya ga sapa kamu kelihatannya dia jutaj banget sama kamu, “ tanya kak leo
            “ Emm, gini kak tadi pagi aku tuh ga sengaja nabrak dia pas dia lagi bawa kopi, terus kopinya tumpah ke baju dia kak, “ jawabku dengan rasa bersalah.
            “ Oh kalau gitu coba minta maaf aja ke dia dek, baik-baik ngomongnya sama kalo bisa bawain sesuatu buat dia,” saran kak Leo yang membuatku ingin bergegas meminta maaf.
            “ Baik kak, terimakasih banyak atas sarannya. “
            “ Sama-sama dek, semoga berhasil ya! “
            Tanpa berfikir panjang usulan kak Leo langsung aku lakukan. Pada saat jam istirahat kedua aku pergi ke kantin untuk membeli minuman yang akan kuberikan kepada kak Maya. Saat itu kebetulan tutup minuman sedang habis, sehingga aku membawa minuman dengan keadaan terbuka. Aku tak berfikir itu akan menjadi masalah, sampai aku kembali membuat kesalahan untuk kedua kalinya.
            “ Wah kak Maya lagi sendirian di pinggir lapangan basket tuh, kesempatan nih. “
            Saat aku melewati lapangan basket aku hanya berkhayal  bahwa minuman itu akan sampai ke kak Maya dengan harapan dia memaafkanku. Lapangan yang saat itu sedang digunakan untuk bermain basket aku hiraukan. Saat aku sudah di hadapan kak Maya, entah darimana bola basket datang dan mengenai tanganku yang sednag membawa minuman. Minuman yang aku bawa pun tumpah ke pakaian kak Maya. Sekali lagi kejadian ini terulang dan membuatku sangat takut akan omelan dari kak Maya yang sebentar lagi akan kuterima.
            “ Wuhhh, maksud kamu nih apa dek? “ tanya kak Maya yang berusaha menahan amarah yang seakan-akan dapat meledak sewaktu-waktu
            “ Emmmmm, saya benar-benar minta maaf kak tadi saya tidak tahu ada bola basket yang datang, “ jawabku dengan suara bergetar bercampur takut.
            “ Kamu emang sengaja ya cari masalah dengan kakak!! “ kak Maya membentak dengan suara tinggi
            “ Tidak kak tidak, aku tadi hanya ingin memberikan kakak minuman sebagai tanda perm.... “ ucapanku yang terhenti karena dipotong oleh kak Maya.
            “ Sini kamu biar kakak ajari sopan santun terhadap orang yang lebih tua, “ potong kak Maya dengan emosi yang meluap-luap dan kejadian ini ditonton oleh seisi sekolah.
            Kak Leo pun segera datang dan berusaha menenangkan Kak Maya. Aku sangat ketakutan saat itu sehingga aku menangis. Andai kak Leo tidak datang entah apa yang akan terjadi padaku. Kak Maya yang sudah terlanjur kesal kepadaku langsung pergi meninggalkan lapangan setelah ditenangkan oleh kak Leo.
            Setelah kejadian itu kak Leo, aku, dan kak Maya dipanggil oleh kepala sekolah di ruangan kepala sekolah. Aku diminta untuk menjelaskan kejadian tersebut. Tetapi aku tidak berani untuk menceritakannya di hadapan kak Maya karena rasa takut masih menyelimuti diriku. Kemudian kak Leo lah yang menjelaskan semuanya kepada pak kepala sekolah. Hingga pak kepala sekolah memutuskan untuk memanggil orang tua kami berdua untuk datang ke sekolah besok. Aku merasa sangat malu karena di hari pertama masuk sekolah, bukannya membuat kesan baik kepada teman-teman dan kakak-kakak malah mencari masalah  di sekolah ini.
            Akhirnya orang tua ku datang ke sekolah. Aku sempat berpapasan dengan kak Maya di koridor namun aku sama sekali tak berani untuk menatapnya, mengingat kejadian kemarin. Akhirnya kami dan orang tua kami dikumpulkan untuk menyelesaikan masalahku ini.
            “ Begini bu, kemarin saya mendapat laporan dari anak-anak bahwa Ayu dan Maya kemarin bertengkar hebat di lapangan. Saya akhirnya memutuskan untuk mengundang ibu-ibu sekalian untuk bersama-sama menyelesaikan masalah ini dengan berunding. Nah, sekarang bagaimana menurut ibu-ibu.” Sapa pak kepala sekolah.
            “ Sebelumnya saya ingin minta maaf pak kalau anak saya sudah membuat masalah di hari pertamanya masuk ke sekolah ini. Kepada ibunda ananda Maya saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada ibu jika anak saya ini memiliki banyak kesalahan kepada ananda Maya, sekali lagi mohon dimaafkan ya! “ ucap ibu meminta maaf, aku hanya bisa terdiam.
            “ Waduh ibu Ayu ini loh, saya ga pernah menyalahkan anak ibu mungkin saat itu emang kesalahan yang ga di sengaja aja kan bu, ya ini namanya mah takdir siapa juga yang tau kalo minuman itu bakal tumpah ke baju anak saya kan, “ balas ibu kak Maya dengan bijak.
            Selesai pertemuan itu aku dan kak Maya sudah saling memaafkan. Namun, begitu keluar dari ruang kepala sekolah aku langsung menemui kak Maya untuk meminta maaf secara benar, bukan diwakilkan. Aku menawari kak Maya untuk pergi jajan bersama di kantin dan aku akan mentraktir dia sebagai bentuk permintaan maaf yang sebenarnya.
            Sejak saat itu kami berdua bersahabat. Kami menjadi lebih akrab satu sama lain, dan sering bertemu juga di luar sekolah. Kami sering menghabiskan waktu bersama di luar sekolah. Akhirnya permintaan maaf yang begitu rumit untuk dilakukan memang tetap harus dilakukan, karena jika kita tidak menyegerakan untuk meminta maaf maka kita akan mendapat dosa dan hubungan kita akan menjadi rusak antara satu sama lain.

Komentar